
Posted02/04/2026
Written ByYepi Muhamad
Pada 1 April 2026, Drift Protocol salah satu decentralized perpetual exchange (perp DEX) terbesar di ekosistem Solana mengalami insiden keamanan besar yang mengakibatkan kerugian hampir $278,5 juta atau setara Rp4,2 triliun.
Insiden ini langsung menjadi salah satu peretasan DeFi terbesar tahun 2026 dan memicu kekhawatiran serius terhadap aspek keamanan governance di protokol berbasis Solana.
Drift Protocol merupakan platform decentralized derivatives exchange berbasis Solana yang menyediakan berbagai instrumen trading non-kustodial, antara lain:
Sebagai salah satu protokol utama di Solana, Drift dikenal memiliki basis pengguna aktif dan total nilai terkunci (TVL) yang signifikan.
Berdasarkan laporan awal tim Drift Protocol, serangan dilakukan secara terencana dalam beberapa tahap
Total dana yang terdampak mencakup berbagai aset, termasuk USDC, SOL, JLP, serta sejumlah wrapped assets.
Platform analitik blockchain Arkham Intelligence telah mengidentifikasi dan melacak aliran dana hasil peretasan secara real-time.
Dana telah dipindahkan dan dikonversi menjadi ETH serta stablecoin, tersebar di beberapa alamat berikut:
Arkham mencatat bahwa hampir seluruh aset telah di-swap dan dipindahkan lintas chain, yang merupakan pola umum dalam upaya menyamarkan jejak transaksi.
Tim menyatakan bahwa laporan postmortem lengkap akan dirilis dalam waktu dekat.
Pasca insiden, token DRIFT sempat mengalami penurunan sekitar 11%. Tekanan jual mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap risiko keamanan, meskipun kondisi masih berkembang.
Dalam pernyataan awal, tim Drift menegaskan bahwa insiden ini tidak disebabkan oleh bug pada smart contract, melainkan akibat Kompromi 2 dari 5 multisig signer, eksploitasi mekanisme durable nonce, dan Indikasi kuat adanya social engineering.
Temuan ini kembali menyoroti bahwa risiko terbesar dalam DeFi seringkali berada pada lapisan operasional dan governance, bukan semata pada kode.