
Posted01/07/2026
Written ByYepi Muhamad
Strategy Inc., perusahaan Bitcoin treasury yang dipimpin Michael Saylor, mengumumkan kerangka modal baru yang memungkinkan perusahaan menjual sebagian Bitcoin dari cadangannya untuk memperkuat likuiditas, membayar dividen, bunga utang, serta mendanai pembelian kembali saham. Kebijakan ini menjadi sorotan pasar karena Strategy sebelumnya dikenal sebagai salah satu institusi paling agresif dalam mengakumulasi Bitcoin.
Pengumuman yang dirilis pada 29 Juni 2026 itu mencakup Digital Credit Capital Framework, kenaikan dividen STRC menjadi 12% per tahun, serta otorisasi buyback hingga US$2 miliar. Program tersebut terdiri dari pembelian kembali Digital Credit Securities hingga US$1 miliar dan saham biasa MSTR senilai US$1 miliar.
Berdasarkan pengumuman resmi perusahaan, dewan direksi Strategy menyetujui BTC Monetization Program. Program ini memungkinkan perusahaan menjual BTC dari waktu ke waktu untuk tiga tujuan utama, yakni membangun cadangan USD hingga US$1,25 miliar, membayar atau mengganti cadangan untuk dividen saham preferen dan bunga utang, serta membiayai pembelian kembali Digital Credit Securities dan saham biasa MSTR.
Strategy menegaskan bahwa program ini tidak mewajibkan perusahaan untuk menjual Bitcoin dalam jumlah tertentu. Setiap monetisasi BTC akan bergantung pada kondisi pasar, kebutuhan likuiditas, pertimbangan pajak dan akuntansi, serta penilaian manajemen terhadap nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
“Strategy remains committed to Bitcoin as its primary treasury reserve asset,” kata Michael Saylor, Founder dan Executive Chairman Strategy. Ia menambahkan bahwa Digital Credit membutuhkan likuiditas, disiplin, dan manajemen modal aktif agar kualitas kredit perusahaan tetap kuat.
Langkah ini menandai perubahan penting dalam pendekatan Strategy. Selama ini, perusahaan lebih dikenal dengan strategi akumulasi Bitcoin melalui penerbitan saham dan instrumen keuangan. Namun, melalui kerangka baru ini, Strategy mulai membuka ruang untuk mengelola neraca secara lebih fleksibel.
CEO Strategy, Phong Le, menyebut perusahaan kini berevolusi dari “one-way capital issuance” menuju “active capital management”. Artinya, Strategy dapat menerbitkan sekuritas ketika kondisi pendanaan menarik, tetapi juga dapat membeli kembali instrumen perusahaan ketika dinilai lebih menguntungkan bagi struktur modal.
Konteks ini menjadi penting karena pada akhir Mei 2026, Strategy dilaporkan telah menjual 32 BTC sekitar US$2,5 juta. Penjualan tersebut dilakukan pada harga rata-rata US$77.135 per BTC dan digunakan untuk membiayai distribusi saham preferen STRC. Meski jumlahnya hanya sekitar 0,0038% dari total kepemilikan perusahaan saat itu, transaksi tersebut memicu perhatian karena menjadi penjualan BTC pertama yang diungkapkan Strategy sejak 2022.
Dari sisi nilai, penjualan 32 BTC tersebut relatif kecil. Namun, dampak psikologisnya cukup besar karena pasar mulai menilai bahwa cadangan Bitcoin Strategy tidak lagi sepenuhnya “tidak tersentuh”. Hal ini membuat investor lebih sensitif terhadap setiap sinyal baru terkait potensi penjualan BTC oleh perusahaan.
Selain program monetisasi Bitcoin, Strategy juga menaikkan tingkat dividen tahunan STRC dari 11,5% menjadi 12% mulai periode pencatatan pada atau setelah 1 Juli 2026. STRC merupakan Variable Rate Series A Perpetual Stretch Preferred Stock, salah satu instrumen Digital Credit milik Strategy.
Perusahaan menyatakan bahwa target korporasi STRC adalah diperdagangkan di kisaran US$99 hingga US$100, mendekati nilai nominal US$100. Namun, Strategy juga menegaskan bahwa dividen STRC tidak dijamin dan tetap bergantung pada deklarasi dewan direksi atau komite yang berwenang.
Di sisi likuiditas, Strategy memiliki cadangan USD sekitar US$2,55 miliar per 28 Juni 2026. Dengan estimasi pembayaran dividen saham preferen dan bunga utang tahunan sekitar US$1,76 miliar, cadangan tersebut setara dengan sekitar 17,4 bulan kebutuhan pembayaran. Jika digabung dengan kapasitas monetisasi BTC sebesar US$1,25 miliar untuk membangun cadangan, total cakupan likuiditas dapat mencapai sekitar US$3,8 miliar atau 25,9 bulan.
Dampak utama dari kebijakan ini bukan hanya potensi tekanan jual langsung terhadap Bitcoin, tetapi juga perubahan persepsi pasar terhadap model bisnis Strategy. Selama beberapa tahun terakhir, Strategy dipandang sebagai pembeli institusional besar yang konsisten mengakumulasi BTC. Dengan adanya program monetisasi, pasar kini harus memperhitungkan kemungkinan bahwa perusahaan juga dapat menjadi penjual dalam kondisi tertentu.
Menurut data yang dibagikan Michael Saylor pada 28 Juni 2026, Strategy memegang 847.363 BTC sekitar US$50,9 miliar, dengan harga beli rata-rata US$75.653 per BTC. Jumlah ini tetap menjadikan Strategy sebagai salah satu pemegang Bitcoin korporat terbesar di dunia.
Namun, struktur pendanaan perusahaan yang melibatkan saham preferen, dividen tinggi, dan kebutuhan cadangan tunai membuat investor semakin memperhatikan kemampuan Strategy menjaga likuiditas. Jika harga BTC melemah atau instrumen seperti STRC terus diperdagangkan di bawah target, tekanan terhadap strategi pendanaan perusahaan dapat meningkat.
Program monetisasi Bitcoin Strategy menunjukkan bahwa perusahaan mulai menyeimbangkan komitmen jangka panjang terhadap BTC dengan kebutuhan manajemen modal yang lebih aktif. Di satu sisi, perusahaan tetap menyatakan Bitcoin sebagai aset cadangan utama. Namun di sisi lain, Strategy kini memiliki mekanisme resmi untuk menjual sebagian BTC jika dinilai lebih efektif dibanding menerbitkan ekuitas baru.
Bagi pasar kripto, kebijakan ini menjadi sinyal penting. Penjualan BTC oleh Strategy mungkin tidak selalu besar secara nominal, tetapi dapat berdampak besar terhadap sentimen karena perusahaan tersebut selama ini menjadi simbol strategi akumulasi Bitcoin korporat. Karena itu, setiap realisasi penjualan BTC, perubahan cadangan USD, dan perkembangan dividen STRC kemungkinan akan terus menjadi perhatian investor dalam beberapa bulan ke depan.