
Posted03/07/2026
Written ByYepi Muhamad
Prancis dilaporkan mencatat 77 kasus penculikan, penahanan ilegal, pemerasan, atau percobaan kejahatan yang berkaitan dengan industri kripto sepanjang paruh pertama 2026. Angka ini naik sekitar 71% dibandingkan 45 kasus yang tercatat sepanjang 2025, menunjukkan meningkatnya ancaman fisik terhadap pelaku industri aset digital di negara tersebut.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, mengatakan bahwa kekhawatiran pelaku industri kripto terhadap gelombang kejahatan ini memang beralasan. “Ini adalah masalah serius, dan kekhawatiran Anda sah,” ujar Nuñez dalam pernyataannya kepada Association for the Development of Digital Assets (ADAN) pada 30 Juni 2026.
Berdasarkan laporan yang sama, pemerintah Prancis telah menangkap sekitar 200 orang dalam rangkaian operasi penindakan dan pencegahan. Penangkapan tersebut dilakukan baik setelah kejadian berlangsung maupun sebelum aksi kriminal berhasil dilakukan.
Nuñez menyebut langkah darurat yang diterapkan selama setahun terakhir mulai menunjukkan hasil. Salah satu contohnya terjadi di wilayah Somme, ketika aparat berhasil menangkap pelaku dalam waktu sekitar delapan jam setelah kejadian, sebagian berkat penggunaan jalur identifikasi darurat.
Selain itu, pemerintah Prancis juga telah meluncurkan platform identifikasi cepat bagi pelaku industri kripto. Hingga kini, sekitar 724 pihak dari sektor aset digital telah terdaftar dalam sistem tersebut, naik sekitar 11%. Sistem ini bertujuan mempercepat respons ketika terjadi ancaman terhadap individu yang terhubung dengan industri kripto.
Kasus-kasus di Prancis mencerminkan meningkatnya fenomena yang dikenal sebagai wrench attack, yakni serangan fisik atau ancaman langsung terhadap pemilik aset kripto untuk memaksa korban menyerahkan aset digitalnya.
Menurut laporan Cointelegraph yang mengutip CertiK, serangan jenis ini secara global naik 41% dalam empat bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagian besar kasus dilaporkan terjadi di Eropa, dengan Prancis disebut sebagai salah satu titik utama peningkatan ancaman tersebut.
Beberapa faktor disebut turut memperbesar risiko, termasuk keberadaan perusahaan kripto besar di Prancis, eksposur publik para pelaku industri, serta riwayat kebocoran data sensitif. Ledger, perusahaan dompet kripto asal Prancis, pernah mengalami kebocoran data pada 2020 yang berdampak pada lebih dari 270.000 catatan pelanggan, dan insiden tersebut disebut masih berkaitan dengan gelombang ancaman keamanan terhadap pengguna kripto hingga saat ini.
Kasus penculikan juga tidak hanya menyasar eksekutif atau pendiri perusahaan kripto. Dalam beberapa laporan sebelumnya, keluarga dan kerabat pelaku industri turut menjadi target. Salah satu kasus besar terjadi pada Januari 2025, ketika David Balland, salah satu pendiri Ledger, diculik bersama pasangannya sebelum akhirnya diselamatkan oleh polisi.
Untuk merespons peningkatan kasus tersebut, Nuñez menyampaikan rencana keamanan baru yang lebih ambisius. Strategi ini mencakup tiga fokus utama, yakni peningkatan pertukaran intelijen, kerja sama lebih erat dengan ADAN, serta koordinasi operasional antarlembaga keamanan.
Peningkatan pertukaran intelijen dinilai penting karena sebagian jaringan kriminal diduga beroperasi dari luar Prancis. Pemerintah juga berencana membangun jaringan ahli yang melibatkan pelaku industri aset digital dan pejabat negara untuk mempercepat deteksi ancaman.
Selain itu, koordinasi lintas negara akan diperkuat, terutama dengan yurisdiksi yang diduga menjadi lokasi para sponsor atau pengatur serangan. Langkah ini menunjukkan bahwa otoritas Prancis mulai melihat kejahatan terkait kripto bukan hanya sebagai kasus kriminal lokal, tetapi juga sebagai bagian dari jaringan kejahatan terorganisir yang memanfaatkan data, media sosial, dan aset digital.
Peningkatan kasus penculikan dan pemerasan ini tidak secara langsung berkaitan dengan pergerakan harga aset seperti Bitcoin atau Ethereum. Namun, dampaknya dapat terasa pada aspek kepercayaan, keamanan operasional, dan perlindungan data pribadi di industri kripto.
Bagi perusahaan kripto, kasus ini menegaskan pentingnya keamanan fisik, perlindungan data pelanggan, serta kebijakan internal untuk mengurangi eksposur publik para eksekutif dan pengguna bernilai tinggi. Sementara bagi investor ritel, fenomena ini menjadi pengingat bahwa risiko kripto tidak hanya terbatas pada volatilitas harga, peretasan dompet, atau penipuan daring, tetapi juga dapat berkembang menjadi ancaman fisik di dunia nyata.
Konteks ini juga menunjukkan bahwa pertumbuhan adopsi aset digital perlu diikuti dengan standar keamanan yang lebih matang. Menurut ADAN, sekitar 11% penduduk Prancis memiliki aset kripto, atau setara dengan sekitar 7,3 juta orang. Dengan basis pengguna yang semakin besar, perlindungan terhadap data dan identitas pemilik aset digital menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.
Lonjakan 77 kasus penculikan dan pemerasan terkait kripto di Prancis sepanjang paruh pertama 2026 menunjukkan bahwa industri aset digital menghadapi risiko keamanan yang semakin kompleks. Pemerintah Prancis telah merespons dengan penangkapan sekitar 200 orang, sistem identifikasi cepat, serta rencana penguatan intelijen dan kerja sama lintas lembaga.
Meski tidak berdampak langsung terhadap harga aset kripto, tren ini dapat memengaruhi cara perusahaan, investor, dan regulator memandang keamanan industri. Ke depan, perlindungan data, keamanan fisik, dan koordinasi antara otoritas dengan pelaku industri kemungkinan akan menjadi bagian penting dari infrastruktur keamanan kripto global.