
Posted01/07/2026
Written ByYepi Muhamad
Persaingan industri stablecoin global kembali memanas setelah Open Standard mengumumkan Open USD (OUSD), stablecoin baru yang didukung oleh lebih dari 140 perusahaan besar dari sektor pembayaran, teknologi, keuangan, dan kripto. Kehadiran OUSD muncul di tengah perubahan besar pasar stablecoin, terutama setelah USDT milik Tether tidak lagi tersedia di sejumlah platform teregulasi Uni Eropa akibat belum memenuhi persyaratan MiCA.
Berdasarkan laporan Reuters, konsorsium Open Standard mencakup sejumlah nama besar seperti Visa, Mastercard, Coinbase, dan mitra lain dari sektor pembayaran serta aset digital. Stablecoin ini dirancang untuk pembayaran dan penyelesaian transaksi global, dengan model yang berbeda dari stablecoin yang selama ini dikendalikan oleh satu penerbit utama.
Open Standard memperkenalkan Open USD sebagai stablecoin dolar AS yang akan digunakan untuk kebutuhan pembayaran lintas negara, settlement, dan integrasi bisnis berskala besar. Stablecoin ini dijadwalkan meluncur pada akhir tahun ini dan akan membawa pendekatan tata kelola berbasis konsorsium.
Dalam model tersebut, mitra ekosistem dapat berpartisipasi dalam tata kelola sekaligus berbagi pendapatan dari cadangan stablecoin setelah dikurangi biaya pengelolaan. Pendekatan ini menjadi pembeda utama dibandingkan model stablecoin tradisional, di mana pendapatan dari aset cadangan umumnya terkonsentrasi pada penerbit.
Zach Abrams, Co-Founder dan CEO Bridge yang telah diakuisisi Stripe, akan menjabat sebagai CEO pendiri Open Standard. Abrams menyebut bahwa bisnis membutuhkan stablecoin yang “terbuka, berbiaya rendah, berkapasitas tinggi, mudah diakses, dan selaras dengan kepentingan mereka.”
OUSD juga dilaporkan akan mendukung pencetakan dan penukaran tanpa biaya, serta tidak menerapkan batasan penerbitan buatan. Hal ini dapat membuat OUSD lebih menarik bagi perusahaan pembayaran, exchange, dan aplikasi bisnis yang membutuhkan stablecoin untuk volume transaksi besar.
Peluncuran OUSD terjadi ketika pasar stablecoin di Eropa sedang mengalami perubahan besar. Mulai 1 Juli 2026, masa transisi regulasi Markets in Crypto-Assets Regulation (MiCA) berakhir. ESMA menyatakan penyedia layanan aset kripto yang belum memperoleh otorisasi harus mengambil langkah untuk menghentikan aktivitas mereka di Uni Eropa secara tertib.
Dampaknya, stablecoin yang belum sesuai dengan ketentuan MiCA, termasuk USDT, tidak dapat terus ditawarkan oleh platform kripto teregulasi kepada pengguna Eropa. Beberapa platform besar telah membatasi atau menghapus USDT untuk pengguna ritel di wilayah tersebut, sementara pengguna diarahkan ke stablecoin yang telah memenuhi standar MiCA.
Penting dicatat, kondisi ini bukan berarti USDT berhenti beroperasi secara global. Namun, aksesnya di platform yang berada di bawah aturan Uni Eropa menjadi terbatas. Bagi trader Eropa, perubahan ini dapat memengaruhi likuiditas, pasangan perdagangan, dan pilihan stablecoin yang tersedia di exchange teregulasi.
Kabar kehadiran OUSD juga langsung berdampak pada saham Circle Internet Group dengan ticker CRCL. Berdasarkan data pasar terbaru, CRCL berada di kisaran US$62,63 pada perdagangan 30 Juni 2026, turun sekitar 17,5% dari penutupan sebelumnya.
Sejumlah laporan pasar mencatat saham Circle sempat turun hampir 14% ke sekitar US$65,39 setelah pengumuman OUSD. Tekanan ini muncul karena OUSD dipandang sebagai pesaing baru bagi USDC, stablecoin utama yang diterbitkan oleh Circle dan menjadi salah satu sumber utama pendapatan perusahaan.
Kekhawatiran investor berpusat pada model bisnis stablecoin. Selama ini, penerbit stablecoin memperoleh pendapatan dari aset cadangan seperti obligasi pemerintah AS atau instrumen kas lain. Jika OUSD menawarkan pembagian pendapatan cadangan kepada mitra ekosistem, maka model tersebut dapat menarik perusahaan besar yang sebelumnya hanya menjadi pengguna atau distributor stablecoin.
Meski demikian, CEO Circle Jeremy Allaire menegaskan bahwa stablecoin tetap menjadi bagian penting dari transformasi infrastruktur uang berbasis internet. Ia juga menyoroti posisi USDC sebagai stablecoin institusional yang telah banyak diadopsi, serta komitmen Circle untuk memperluas ekosistemnya melalui kemitraan dengan bank, perusahaan pembayaran, dan firma pasar modal.
Kehadiran OUSD menunjukkan bahwa persaingan stablecoin tidak lagi hanya soal kapitalisasi pasar atau likuiditas di exchange. Persaingan mulai bergeser ke model distribusi, kemitraan bisnis, kepatuhan regulasi, dan pembagian nilai ekonomi dari cadangan stablecoin.
USDT masih menjadi stablecoin terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, dengan nilai pasar lebih dari US$184 miliar menurut data CoinMarketCap. Namun, tekanan regulasi di Eropa membuka ruang bagi stablecoin yang lebih patuh terhadap aturan lokal untuk mengambil pangsa pasar di platform teregulasi.
Di sisi lain, USDC selama ini diposisikan sebagai stablecoin yang lebih dekat dengan institusi dan regulasi. Namun, kehadiran OUSD dengan dukungan Visa, Mastercard, Coinbase, BlackRock, Google, BNY, dan sejumlah perusahaan besar lain dapat menciptakan kompetisi baru di segmen pembayaran global dan penyelesaian transaksi berbasis blockchain.
Peluncuran OUSD menandai babak baru dalam industri stablecoin. Jika sebelumnya pasar banyak didominasi oleh USDT dan USDC, kini perusahaan pembayaran, lembaga keuangan, dan perusahaan teknologi besar mulai membangun model stablecoin yang lebih terbuka dan berbasis konsorsium.
Bagi pasar kripto, perkembangan ini menunjukkan bahwa stablecoin semakin dilihat sebagai infrastruktur keuangan digital, bukan sekadar aset pendukung trading. Namun, dampak jangka panjang OUSD masih bergantung pada adopsi nyata, kepatuhan regulasi, likuiditas, serta kemampuan ekosistemnya bersaing dengan stablecoin yang sudah lebih dulu memiliki basis pengguna besar.