
Posted08/06/2026
Written ByYepi Muhamad
JPMorgan menyatakan bahwa penjualan 32 Bitcoin yang baru-baru ini dilakukan Strategy tergolong kecil dari sisi nilai, namun tetap memunculkan kekhawatiran baru di pasar. Bank tersebut menilai langkah itu dapat menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan Strategy akan kembali menjual BTC untuk membiayai kewajiban dividen saham preferen.
Strategy, perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, dilaporkan menjual 32 BTC untuk mendanai pembayaran dividen saham preferen. Meski jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan total kepemilikan Bitcoin perusahaan, transaksi ini menjadi sorotan karena Strategy selama ini dikenal dengan narasi akumulasi BTC jangka panjang.
Berdasarkan data yang beredar, penjualan tersebut dilakukan untuk mendukung pembayaran distribusi saham preferen. JPMorgan menilai nilai transaksi ini memang tidak signifikan secara langsung terhadap cadangan Bitcoin Strategy, tetapi penting secara psikologis karena menyentuh persepsi pasar terhadap komitmen perusahaan untuk tidak menjual BTC.
Kekhawatiran utama investor bukan pada 32 BTC yang telah dijual, melainkan pada potensi penjualan lanjutan apabila Strategy membutuhkan likuiditas dolar AS untuk memenuhi kewajiban dividennya.
Menurut JPMorgan, cadangan dolar AS Strategy saat ini hanya cukup untuk menutupi pembayaran dividen selama sekitar 6,3 bulan. Kondisi tersebut membuat bank investasi itu mengubah pandangannya terhadap aset digital dari positif menjadi lebih hati-hati.
JPMorgan memperkirakan arah pasar kripto pada paruh kedua tahun ini akan sangat bergantung pada dua faktor utama. Pertama, bagaimana Strategy membiayai kewajiban dividen tahunan yang diperkirakan mencapai sekitar $1,7 miliar. Kedua, apakah RUU CLARITY di Amerika Serikat dapat disahkan tahun ini.
Bank tersebut kini memperkirakan peluang pengesahan RUU CLARITY berada di bawah 50%. Ketidakpastian regulasi ini dinilai dapat menambah tekanan terhadap sentimen pasar, terutama karena investor institusional masih menunggu kejelasan aturan terkait struktur pasar aset digital di AS.
Di sisi lain, Jiang Zhuoer, CEO BTCTOP, menilai Strategy kecil kemungkinan melakukan penjualan bersih Bitcoin dalam jumlah besar. Ia berargumen bahwa perusahaan memiliki insentif kuat untuk mempertahankan citra sebagai salah satu pemegang BTC terbesar yang konsisten dengan narasi “tidak pernah menjual BTC”.
Menurut Jiang, bahkan apabila harga Bitcoin turun ke level $30.000, rasio leverage Strategy diperkirakan hanya akan meningkat dari sekitar 5% menjadi sekitar 10%. Dengan rasio tersebut, tekanan neraca dinilai masih belum cukup besar untuk memaksa perusahaan melakukan likuidasi BTC secara agresif.
Jiang juga menilai strategi pendanaan bunga STRC Strategy masih memiliki logika finansial yang konsisten. Dalam skenario tersebut, perusahaan dapat menjual BTC berbiaya rendah lebih awal untuk mencatat keuntungan akuntansi yang digunakan membayar bunga STRC. Sementara itu, hasil penerbitan STRC baru dapat digunakan kembali untuk membeli BTC, sehingga narasi pembelian bersih tetap dapat dipertahankan.
Kasus Strategy menjadi perhatian karena perusahaan ini merupakan salah satu simbol utama tren Bitcoin treasury korporasi. Setiap perubahan dalam strategi pengelolaan BTC perusahaan berpotensi memengaruhi persepsi pasar terhadap model bisnis perusahaan publik yang menjadikan Bitcoin sebagai aset cadangan utama.
Meski penjualan 32 BTC tidak berdampak besar secara langsung terhadap likuiditas pasar Bitcoin, dampaknya lebih terasa pada level narasi. Investor kini mulai menilai ulang apakah kepemilikan BTC Strategy benar-benar bersifat jangka panjang, atau dapat digunakan secara fleksibel untuk memenuhi kebutuhan pendanaan perusahaan.
Insight penting dari kondisi ini adalah bahwa risiko terbesar bagi Strategy bukan semata-mata volatilitas harga BTC, tetapi keseimbangan antara komitmen akumulasi Bitcoin, kebutuhan pembayaran dividen, dan akses perusahaan terhadap pendanaan baru. Jika pasar saham preferen tetap kuat, Strategy masih memiliki ruang untuk mempertahankan narasi pembelian bersih. Namun jika akses likuiditas melemah, tekanan terhadap cadangan BTC dapat kembali menjadi perhatian utama pasar.
Secara lebih luas, perkembangan ini menunjukkan bahwa strategi treasury berbasis Bitcoin mulai memasuki fase yang lebih kompleks. Investor tidak lagi hanya melihat jumlah BTC yang dimiliki perusahaan, tetapi juga struktur kewajiban, biaya pendanaan, dan kemampuan perusahaan menjaga kepercayaan pasar dalam jangka panjang.