
Posted09/07/2026
Written ByYepi Muhamad
Steven Goldfeder, salah satu pendiri Offchain Labs, menyatakan bahwa 10% dari biaya yang dikumpulkan oleh Robinhood Chain dan jaringan Layer-2 Arbitrum lainnya akan dialokasikan ke ekosistem Arbitrum. Dari porsi tersebut, 8% akan masuk ke kas yang dikendalikan pemegang token, sementara 2% digunakan untuk mendanai pengembangan ekosistem.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya aktivitas on-chain di Robinhood Chain, Layer-2 berbasis Arbitrum yang diluncurkan untuk mendukung layanan keuangan on-chain, termasuk tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA). Robinhood mengumumkan peluncuran public mainnet Robinhood Chain pada 1 Juli 2026, dengan infrastruktur yang dibangun menggunakan Arbitrum Platform.
Berdasarkan penjelasan Goldfeder, biaya dari Robinhood Chain tidak sepenuhnya menjadi milik operator jaringan. Sebagian dari pendapatan tersebut akan mengalir kembali ke ekosistem Arbitrum melalui mekanisme pembagian biaya.
Forum ArbitrumDAO juga menjelaskan bahwa jaringan Arbitrum yang berada di luar Arbitrum One membayar 10% dari protocol net revenue sebagai bagian dari lisensi Arbitrum Expansion Program (AEP). Dari jumlah tersebut, 8% masuk ke kas ArbitrumDAO, sementara 2% dialokasikan untuk Arbitrum Developer Guild.
Goldfeder turut menegaskan bahwa 100% biaya yang dikumpulkan di Arbitrum One akan dialokasikan ke kas Arbitrum. Artinya, Robinhood Chain dan L2 Arbitrum lainnya berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi ekosistem Arbitrum, sementara Arbitrum One tetap menjadi jalur utama pendapatan protokol.
Robinhood Chain sendiri merupakan Arbitrum Layer-2 yang dibangun di atas Ethereum, menggunakan ETH sebagai native gas token, serta memanfaatkan Ethereum blobs untuk data availability.
Aktivitas perdagangan di Robinhood Chain juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Volume perdagangan harian DEX di jaringan tersebut dilaporkan melampaui US$560 juta pada 8 Juli 2026, mencetak rekor tertinggi baru.
Selain volume perdagangan, jumlah alamat aktif harian juga mendekati 200.000. Lebih dari 140.000 di antaranya merupakan alamat baru yang melakukan transaksi pertama kali di jaringan tersebut. Dalam satu hari yang sama, hampir 16.000 token baru diciptakan di Robinhood Chain.
Lonjakan ini menunjukkan bahwa Robinhood Chain mulai menarik aktivitas ritel secara agresif, terutama dari sektor token baru dan meme coin. Sebelumnya, Crypto Briefing juga melaporkan bahwa jaringan tersebut sempat memproses sekitar 1,7 juta transaksi harian dengan hampir 50.000 pengguna aktif harian beberapa hari setelah peluncuran mainnet.
Data DefiLlama saat pengecekan juga menunjukkan Robinhood Chain memiliki TVL DeFi sekitar US$75,11 juta, dengan DEX volume 24 jam sebesar US$426,94 juta. Angka ini dapat berubah mengikuti aktivitas pasar real-time.
Pertumbuhan Robinhood Chain juga terlihat dari munculnya sejumlah token meme baru. Dilaporkan, tujuh meme coin di jaringan tersebut telah mencapai kapitalisasi pasar di atas US$1 juta.
Salah satu yang paling menonjol adalah Cash Cat (CASHCAT), yang sempat melampaui kapitalisasi pasar US$100 juta. Data CoinGecko menunjukkan CASHCAT memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$104,64 juta, dengan volume perdagangan 24 jam sekitar US$74,8 juta pada saat artikel ini di tulis.
Namun, tingginya aktivitas meme coin juga membawa risiko tersendiri. Token-token baru dengan pertumbuhan cepat biasanya memiliki volatilitas tinggi, likuiditas yang belum stabil, serta risiko spekulasi jangka pendek. Karena itu, lonjakan aktivitas Robinhood Chain perlu dilihat tidak hanya sebagai indikator pertumbuhan, tetapi juga sebagai fase awal pembentukan pasar yang masih rentan terhadap perubahan sentimen.
Bagi Arbitrum, skema pembagian biaya dari Robinhood Chain dapat memperkuat narasi bahwa teknologi Layer-2 bukan hanya infrastruktur, tetapi juga sumber pendapatan bagi DAO dan pengembang. Jika aktivitas Robinhood Chain terus meningkat, maka porsi 8% untuk kas ArbitrumDAO dan 2% untuk pengembangan dapat menjadi sumber pendanaan berkelanjutan.
Model ini juga memberi nilai strategis bagi ekosistem Arbitrum. Setiap jaringan baru yang dibangun dengan teknologi Arbitrum dan masuk dalam skema AEP berpotensi menambah aliran pendapatan bagi ekosistem, terutama jika jaringan tersebut memiliki aktivitas transaksi tinggi.
Dari sisi pasar, pada saat artikel ini di tulis token ARB diperdagangkan di kisaran US$0,0825, dengan pergerakan harian yang relatif terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa meski kabar pembagian biaya dan pertumbuhan Robinhood Chain positif secara fundamental, dampaknya terhadap harga token masih perlu dipantau lebih lanjut.
Pernyataan Steven Goldfeder menegaskan bahwa Robinhood Chain dapat menjadi salah satu sumber pendapatan baru bagi ekosistem Arbitrum. Dengan skema 10% biaya untuk Arbitrum, jaringan Layer-2 yang dibangun di atas teknologi Arbitrum memiliki kontribusi langsung terhadap kas DAO dan pendanaan pengembangan.
Di sisi lain, lonjakan volume DEX, pertumbuhan alamat aktif, serta munculnya meme coin seperti Cash Cat menunjukkan bahwa Robinhood Chain mulai mendapatkan daya tarik pasar. Namun, fase awal ini juga perlu dilihat secara hati-hati karena aktivitas tinggi di token baru sering kali disertai volatilitas dan risiko spekulatif.
Jika Robinhood Chain mampu mempertahankan aktivitas on-chain setelah fase awal peluncuran, jaringan ini berpotensi menjadi contoh penting bagaimana adopsi institusional, tokenisasi aset, dan ekosistem Layer-2 dapat saling terhubung dalam menciptakan nilai bagi protokol.