
Posted09/05/2026
Written ByYepi Muhamad
Protokol decentralized finance (DeFi) Aave mengumumkan dimulainya Fase II dalam proses pemulihan rsETH, menyusul likuidasi posisi penyerang di Aave V3 pada 6 Mei 2026. Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya pemulihan ekosistem setelah insiden yang menyebabkan ketidakseimbangan pasokan rsETH dan terganggunya proses penarikan aset pengguna.
Dalam pembaruan resminya, Aave menyebut bahwa proses pemulihan kini memasuki tahap lanjutan setelah sebagian dana berhasil diamankan. Sebelumnya, sekitar US$71 juta ETH berhasil dipulihkan dan direncanakan untuk dikembalikan kepada pengguna melalui keputusan Arbitrum DAO.
Berdasarkan penjelasan Aave, posisi milik penyerang di Aave V3 resmi dilikuidasi pada 6 Mei. Likuidasi ini dilakukan sebagai bagian dari mekanisme protokol untuk menjaga kesehatan pasar dan membatasi risiko sistemik terhadap ekosistem lending.
Meski demikian, dana ETH senilai US$71 juta yang telah dipulihkan sempat mengalami pembekuan sementara. Hal ini terjadi karena adanya pihak penggugat yang memegang putusan pengadilan terkait Korea Utara, sehingga aset tersebut belum dapat langsung didistribusikan kembali kepada pengguna.
Aave menjelaskan bahwa pengadilan kini telah memberikan izin agar aset yang dibekukan tersebut dapat ditransfer ke Aave LLC. Keputusan ini membuka jalan bagi proses distribusi dana dan pemulihan likuiditas yang sebelumnya tertahan akibat proses hukum.
Untuk menjaga stabilitas operasional selama proses hukum berlangsung, Aave juga akan meminjam dana sementara guna menutupi kekurangan likuiditas hingga aset yang dipulihkan dapat dikembalikan secara resmi.
Sebagai bagian dari Fase II pemulihan, Aave menyatakan akan melakukan burn atau pembakaran terhadap rsETH hasil likuidasi. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi pasokan rsETH yang meningkat akibat aktivitas peretas sebelumnya.
Menurut tim Aave, pembakaran token tersebut bertujuan membantu mengembalikan keseimbangan suplai dan mendukung stabilitas ekosistem. Selain itu, proses penarikan aset melalui bridge juga akan dipulihkan secara bertahap hingga operasional kembali normal sepenuhnya.
Pendekatan ini dinilai penting untuk mengurangi tekanan terhadap likuiditas sekaligus memulihkan kepercayaan pengguna terhadap sistem yang terdampak insiden.
Kasus rsETH kembali menyoroti besarnya tantangan keamanan dan risiko likuiditas di sektor DeFi, terutama pada protokol yang memiliki keterkaitan lintas-chain dan mekanisme leverage kompleks.
Meskipun sebagian besar dana berhasil diamankan, proses hukum yang melibatkan aset terkait sanksi internasional menunjukkan bahwa insiden kripto kini tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga regulasi dan kepatuhan hukum global.
Di sisi lain, keputusan Arbitrum DAO untuk mendukung pengembalian dana kepada pengguna dinilai sebagai langkah positif dalam menjaga kepercayaan komunitas terhadap ekosistem DeFi. Respons cepat dari Aave dalam melakukan likuidasi, pembakaran token, dan penyediaan likuiditas sementara juga menjadi faktor penting untuk membatasi dampak lebih luas terhadap pasar.
Dengan dimulainya Fase II pemulihan rsETH, fokus utama Aave saat ini adalah mengembalikan fungsi penarikan secara penuh dan memastikan stabilitas ekosistem tetap terjaga di tengah proses hukum yang masih berlangsung.