
Posted11/04/2026
Written ByYepi Muhamad
Bhutan dilaporkan telah melepas sekitar 70% dari total kepemilikan Bitcoin dalam kurun waktu 18 bulan terakhir. Berdasarkan data on-chain dari Arkham Intelligence, cadangan Bitcoin negara tersebut turun signifikan dari sekitar 13.000 BTC pada Oktober 2024 menjadi hanya 3.954 BTC saat ini, dengan nilai sekitar $280,6 juta. Penurunan ini menunjukkan perubahan strategi signifikan dalam pengelolaan aset kripto oleh kerajaan tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun Arkham, Bhutan secara bertahap mengurangi kepemilikan BTC sejak akhir 2024. Dalam periode tersebut, total sekitar 9.000 BTC telah ditransfer keluar dari dompet yang teridentifikasi milik negara.
Menariknya, hanya pada tahun 2026 saja, tercatat arus keluar sebesar $215,7 juta dalam bentuk Bitcoin. Aktivitas ini menunjukkan adanya intensitas penjualan yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Bhutan sebelumnya dikenal sebagai salah satu negara yang aktif mengakumulasi Bitcoin melalui aktivitas mining yang didukung oleh energi hidro (tenaga air). Model ini sempat dianggap sebagai pendekatan berkelanjutan dalam industri kripto, mengingat biaya energi yang relatif rendah dan ramah lingkungan.
Selain penjualan aset, data juga menunjukkan adanya penurunan drastis dalam pemasukan Bitcoin dari aktivitas mining. Tercatat bahwa sudah lebih dari satu tahun sejak Bhutan terakhir kali mencatat arus masuk dari mining yang melebihi $100.000.
Menurut analis on-chain, kondisi ini mengindikasikan bahwa operasi penambangan Bitcoin berbasis tenaga air di Bhutan kemungkinan telah dihentikan atau dikurangi secara signifikan.
“Penurunan konsisten dalam aliran masuk BTC dari mining menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas tersebut tidak lagi menjadi prioritas utama,” ujar analis kripto yang mengamati data tersebut.
Namun, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Bhutan terkait perubahan strategi ini.
Meskipun jumlah Bitcoin yang dijual tergolong besar, dampaknya terhadap harga pasar relatif terbatas. Hal ini kemungkinan karena distribusi penjualan dilakukan secara bertahap, sehingga tidak menimbulkan tekanan jual besar dalam waktu singkat.
Namun, langkah Bhutan ini dapat menjadi perhatian bagi pelaku pasar, mengingat negara tersebut sebelumnya dianggap sebagai salah satu “whale” institusional di sektor kripto.
Selain itu, keputusan untuk mengurangi eksposur terhadap Bitcoin dan potensi penghentian mining dapat mencerminkan perubahan pendekatan terhadap aset digital, baik dari sisi kebijakan fiskal maupun strategi investasi negara.
Penjualan besar-besaran Bitcoin oleh Bhutan dalam 18 bulan terakhir menandai pergeseran signifikan dalam strategi aset digital negara tersebut. Dengan penurunan cadangan hingga 70% dan indikasi berhentinya aktivitas mining, Bhutan tampaknya mulai mengurangi ketergantungan pada Bitcoin sebagai sumber nilai.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah ini dapat menjadi refleksi dinamika baru dalam adopsi kripto oleh negara, di mana faktor ekonomi, regulasi, dan efisiensi energi mulai memainkan peran lebih besar dibandingkan fase akumulasi sebelumnya.