
Posted07/04/2026
Written ByYepi Muhamad
Circle mengumumkan peta jalan (roadmap) ketahanan komputasi kuantum untuk blockchain layer-1 miliknya, Arc, dengan pendekatan bertahap guna melindungi ekosistem dari potensi ancaman kriptografi di masa depan. Di saat yang sama, Solana bersama Project Eleven juga melakukan uji coba tanda tangan tahan kuantum, namun hasil awal menunjukkan adanya penurunan performa jaringan yang signifikan.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa komputasi kuantum dapat mulai mengancam sistem kriptografi kunci publik pada sekitar tahun 2030 atau bahkan lebih cepat.
Berdasarkan pengumuman resmi, Circle akan mengimplementasikan ketahanan kuantum di jaringan Arc melalui beberapa tahap, mencakup dompet, status privat, validator, hingga infrastruktur jaringan secara keseluruhan.
Pada tahap awal, mainnet Arc akan memperkenalkan tanda tangan pasca-kuantum dengan model opt-in, yang memungkinkan pengguna dan pengembang untuk mengadopsi teknologi ini secara bertahap tanpa mengganggu sistem yang sudah berjalan.
Circle juga menyoroti potensi risiko besar yang dikenal sebagai skenario “harvest now, decrypt later”, di mana data terenkripsi saat ini dapat dikumpulkan dan baru didekripsi di masa depan ketika teknologi kuantum sudah cukup maju.
Dalam pernyataannya, Circle menyebut bahwa:
“Komputasi kuantum berpotensi merusak sistem kriptografi kunci publik dalam dekade ini, sehingga diperlukan langkah mitigasi sejak dini.”
Di sisi lain, Solana bekerja sama dengan Project Eleven untuk menguji implementasi tanda tangan tahan kuantum pada jaringannya. Namun, hasil uji awal menunjukkan adanya kompromi signifikan antara keamanan dan efisiensi.
Berdasarkan data pengujian:
Penurunan performa ini menjadi sorotan utama karena dapat berdampak langsung pada skalabilitas salah satu keunggulan utama Solana sebagai blockchain berkecepatan tinggi.
Menurut analis, peningkatan ukuran data ini akan memperbesar beban jaringan, memperlambat validasi transaksi, serta meningkatkan kebutuhan bandwidth dan penyimpanan.
Meskipun teknologi tahan kuantum menawarkan perlindungan jangka panjang, implementasinya masih menghadapi sejumlah tantangan teknis yang signifikan.
Pendekatan Circle yang bersifat bertahap dinilai lebih realistis dalam jangka pendek, karena memberi ruang adaptasi bagi ekosistem tanpa mengorbankan performa secara drastis.
Sebaliknya, hasil uji Solana menunjukkan bahwa adopsi penuh teknologi ini saat ini masih belum efisien untuk jaringan dengan kebutuhan throughput tinggi.
Dalam konteks industri, langkah ini mencerminkan meningkatnya kesadaran bahwa ancaman komputasi kuantum bukan lagi sekadar teori, melainkan risiko nyata yang mulai dipersiapkan sejak sekarang.
Perkembangan ini berpotensi memicu perubahan standar keamanan di industri blockchain dalam beberapa tahun ke depan. Proyek-proyek besar kemungkinan akan mulai mengevaluasi ulang sistem kriptografi mereka, terutama yang berbasis tanda tangan digital konvensional seperti ECDSA.
Namun, dengan adanya trade-off antara keamanan dan performa, adopsi luas teknologi tahan kuantum diperkirakan akan berlangsung secara bertahap, bukan dalam waktu singkat.
Pengumuman Circle dan uji coba Solana menegaskan bahwa industri blockchain mulai memasuki fase baru dalam hal keamanan kriptografi. Ancaman komputasi kuantum mendorong inovasi, namun juga menghadirkan tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara keamanan dan skalabilitas.
Dalam jangka panjang, keberhasilan implementasi teknologi tahan kuantum akan sangat bergantung pada kemampuan industri untuk mengoptimalkan performa tanpa mengorbankan keamanan fundamental jaringan.