
Posted31/03/2026
Written ByYepi Muhamad
Perusahaan teknologi Google baru-baru ini merilis pembaruan penting terkait perkembangan komputer kuantum yang berpotensi mengancam sistem kriptografi yang digunakan dalam industri kripto saat ini. Dalam laporan resminya, Google menegaskan bahwa ancaman terhadap enkripsi modern kini semakin dekat dan membutuhkan respons segera dari industri.
Dalam publikasi terbarunya, Google menyebut bahwa komputer kuantum di masa depan akan menjadi ancaman serius bagi sistem enkripsi, termasuk yang digunakan dalam blockchain dan aset kripto. Perusahaan bahkan telah memperbarui model ancamannya dan mendorong percepatan migrasi ke sistem post-quantum cryptography (PQC).
Sejumlah laporan juga memperkirakan bahwa momen “Q-Day” yakni saat komputer kuantum mampu memecahkan enkripsi modern berpotensi terjadi lebih cepat, bahkan sebelum 2030.
Salah satu temuan paling signifikan adalah efisiensi serangan yang meningkat drastis. Penelitian Google menunjukkan bahwa komputer kuantum berpotensi memecahkan private key kripto hanya dalam waktu sekitar 9 menit dalam skenario tertentu.
Angka ini menjadi krusial jika dibandingkan dengan waktu rata-rata konfirmasi blok Bitcoin yang berada di kisaran 10 menit. Dengan demikian, muncul potensi serangan “on-spend attack”, di mana pelaku dapat mengekstrak private key dari public key yang terekspos saat transaksi berlangsung, lalu mengalihkan dana sebelum transaksi dikonfirmasi.
Google juga mengungkap bahwa jumlah sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan serangan quantum kini jauh lebih kecil dari estimasi sebelumnya.
Dalam riset tersebut, disebutkan bahwa hanya dibutuhkan sekitar 1.200–1.450 logical qubits untuk menjalankan metode serangan tertentu angka yang jauh lebih efisien dibandingkan proyeksi sebelumnya yang mencapai puluhan ribu qubits.
Penurunan kebutuhan ini mempersempit jarak antara kemampuan teknologi saat ini dan potensi serangan nyata di masa depan.
Selain itu, penelitian juga menyoroti besarnya potensi dampak terhadap ekosistem kripto. Diperkirakan jutaan Bitcoin berada dalam kondisi rentan, terutama pada alamat yang public key-nya sudah pernah terekspos.
Sebagian di antaranya bahkan berasal dari era awal Bitcoin, termasuk kepemilikan yang dikaitkan dengan Satoshi Nakamoto, yang dinilai memiliki tingkat risiko lebih tinggi jika serangan quantum benar-benar terwujud.
Menanggapi perkembangan ini, Google menekankan pentingnya transisi menuju sistem kriptografi yang tahan terhadap serangan quantum.
Post-quantum cryptography sendiri merupakan pendekatan kriptografi yang dirancang agar tetap aman meskipun dihadapkan pada komputer kuantum, berbeda dengan algoritma saat ini seperti RSA atau elliptic curve yang berpotensi dapat dipecahkan.
Google juga telah mulai mengimplementasikan teknologi ini di berbagai produknya, termasuk integrasi PQC dalam sistem keamanan dan layanan digital.
Rilis terbaru dari Google menandai perubahan penting dalam lanskap keamanan digital, khususnya bagi industri kripto.
Dengan estimasi waktu serangan yang semakin singkat dan kebutuhan teknologi yang lebih rendah, ancaman quantum tidak lagi sekadar wacana jangka panjang.
Bagi pelaku industri dan pengguna kripto, perkembangan ini menjadi sinyal kuat untuk mulai mempertimbangkan transisi ke sistem keamanan yang lebih adaptif terhadap era quantum yang semakin dekat.