
Posted17/04/2026
Written ByYepi Muhamad
Google dilaporkan telah merilis alat keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Magika ke publik melalui platform GitHub. Tool ini sebelumnya digunakan secara internal selama bertahun-tahun untuk mendeteksi ratusan miliar file setiap minggu di berbagai layanan seperti Gmail, Google Drive, dan Safe Browsing. Dengan kemampuan identifikasi file yang diklaim mencapai akurasi hingga 99%, Magika dinilai berpotensi meningkatkan keamanan digital, termasuk bagi pengguna di sektor kripto dan Web3 yang rentan terhadap serangan phishing dan malware.
Berdasarkan informasi yang dibagikan oleh akun X ceogalxe, Google kini membuka akses publik untuk Magika melalui repositori resminya. Tool ini dirancang untuk mengidentifikasi tipe asli sebuah file, bukan hanya berdasarkan ekstensi atau nama file yang dapat dimanipulasi.
Sebagai contoh, file berbahaya yang disamarkan sebagai “resume.pdf” atau skrip berbahaya yang dikemas menyerupai file gambar tetap dapat dikenali oleh Magika. Hal ini karena sistem bekerja dengan menganalisis struktur dan konten internal file, bukan sekadar metadata.
Magika dilaporkan telah dilatih menggunakan lebih dari 100 juta sampel file, mendukung lebih dari 200 tipe konten, serta mampu melakukan deteksi dalam waktu sekitar 5 milidetik per file. Dari sisi implementasi, pengguna cukup menginstal tool ini melalui perintah sederhana:
pip install magika
Dalam ekosistem kripto, serangan berbasis file menjadi salah satu metode yang sering digunakan oleh pelaku kejahatan siber. Email phishing yang menyertakan lampiran berbahaya atau tautan ke file palsu kerap menyasar pengguna yang aktif mengikuti airdrop atau whitelist proyek.
Menurut analis keamanan siber, pendekatan seperti yang digunakan Magika menjadi penting karena banyak serangan modern tidak lagi mengandalkan teknik sederhana, melainkan menyamarkan file berbahaya agar terlihat aman.
“Banyak pengguna hanya mengandalkan ekstensi file sebagai indikator keamanan, padahal metode ini sudah tidak cukup,” ujar seorang analis keamanan dalam diskusi terkait tools deteksi file berbasis AI.
Dengan kemampuan untuk “menembus” penyamaran file, Magika dapat membantu pengguna mengidentifikasi potensi ancaman sebelum file tersebut dieksekusi atau diunduh.
Rilisnya Magika sebagai open source memberikan akses lebih luas bagi individu maupun developer untuk meningkatkan sistem keamanan mereka. Hal ini menjadi relevan di tengah meningkatnya kasus pencurian aset kripto akibat malware dan situs palsu.
Bagi pengguna Web3, terutama yang aktif berburu airdrop, tool ini dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan untuk memverifikasi file yang diterima melalui email atau platform komunitas.
Selain itu, dengan latensi rendah dan tingkat akurasi tinggi, Magika juga berpotensi diintegrasikan ke dalam wallet, platform exchange, maupun aplikasi keamanan lainnya di masa depan.
Langkah Google membuka akses Magika ke publik mencerminkan dorongan terhadap transparansi dan kolaborasi dalam meningkatkan keamanan digital secara global. Dengan teknologi yang sebelumnya digunakan untuk melindungi miliaran pengguna, kini individu juga memiliki kesempatan untuk memanfaatkan alat serupa dalam menjaga aset dan data mereka.
Dalam konteks kripto yang semakin berkembang, adopsi teknologi keamanan seperti ini dapat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko serangan siber yang semakin kompleks.