
Posted09/03/2026
Written ByYepi Muhamad
Investor di proyek kripto World Liberty Financial (WLFI) yang terkait dengan keluarga Presiden AS Donald Trump dilaporkan menghadapi ketidakpastian setelah harga tokennya turun dan likuiditas di pasar tetap terbatas. Situasi ini membuat sebagian investor ritel kesulitan untuk keluar dari posisi mereka.
Laporan tersebut pertama kali disorot oleh Bloomberg, yang menilai kondisi ini memperlihatkan risiko yang sering muncul pada proyek kripto yang memiliki keterkaitan kuat dengan tokoh politik.
Menurut laporan tersebut, beberapa pembeli token WLFI yang ikut dalam penjualan awal kini menghadapi kesulitan menjual kepemilikannya. Hal ini terjadi karena likuiditas token yang masih terbatas di pasar, sehingga tidak semua investor bisa langsung menemukan pembeli saat ingin menjual.
Dalam kondisi seperti ini, investor ritel biasanya menjadi pihak yang paling terdampak. Tanpa pasar sekunder yang cukup dalam, mereka bisa terjebak memegang token lebih lama dari yang direncanakan.
Fenomena ini bukan hal baru di dunia kripto, terutama pada proyek yang masih dalam tahap awal atau memiliki distribusi token yang terkonsentrasi. Ini mungkin alasan kenapa token penjualan awal belum didistribusikan kembali karena takut harga akan semakin dalam.
World Liberty Financial sendiri merupakan proyek decentralized finance (DeFi) yang diluncurkan pada 2024 dan memiliki hubungan erat dengan keluarga Trump. Proyek ini didirikan oleh beberapa pengusaha kripto bersama anggota keluarga Trump dan menjadi salah satu usaha digital asset yang cukup mendapat sorotan publik waktu itu.
Struktur kepemilikan proyek juga cukup unik. Sebuah entitas bisnis milik keluarga Trump dilaporkan memiliki 60% kepemilikan perusahaan dan berhak atas sebagian besar pendapatan dari penjualan token.
Sejak diluncurkan, proyek ini menarik perhatian karena menggabungkan brand politik dengan ekosistem kripto, sesuatu yang jarang terjadi dalam skala besar.
Tekanan terhadap investor semakin terasa setelah nilai token WLFI mengalami penurunan signifikan. Dalam salah satu laporan sebelumnya, token proyek ini bahkan sempat turun lebih dari 50% dari puncaknya, performa yang lebih buruk dibandingkan beberapa aset kripto utama pada periode yang sama.
Penurunan harga ini memperbesar risiko bagi investor yang masuk di harga tinggi, terutama jika likuiditas pasar belum cukup kuat untuk menampung aksi jual.
Kasus WLFI kembali mengingatkan komunitas kripto tentang risiko yang bisa muncul dari proyek yang memiliki keterkaitan politik atau figur publik besar.
Di satu sisi, nama besar sering membantu proyek menarik perhatian dan modal dalam waktu cepat. Namun di sisi lain, proyek semacam ini juga bisa menghadapi volatilitas tinggi, sorotan regulasi, serta dinamika pasar yang tidak selalu berpihak pada investor ritel.
Bagi komunitas kripto termasuk para airdrop hunter dan investor early-stage kasus ini menjadi pengingat penting bahwa likuiditas token sama pentingnya dengan hype proyek, distribusi token dan akses pasar sekunder harus diperhatikan sejak awal, serta tidak semua proyek yang viral atau memiliki backing figur terkenal otomatis aman untuk dipegang jangka panjang.