
Posted27/03/2026
Written ByYepi Muhamad
Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz jalur vital yang menjadi urat nadi distribusi energi global. Dalam pernyataan resminya, IRGC juga mengancam akan mengambil tindakan tegas terhadap kapal yang tetap mencoba melintas.
Beberapa laporan awal menyebutkan setidaknya tiga kapal kontainer dari berbagai negara telah dipaksa berbalik arah oleh angkatan laut IRGC setelah menerima peringatan keras. Langkah sepihak ini langsung memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasokan energi dunia, mengingat sekitar 20% distribusi minyak global melewati jalur tersebut.
Dampak langsung terlihat di pasar energi. Harga minyak mentah Amerika Serikat (WTI) melonjak signifikan hingga menembus level $97 per barel. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya risiko gangguan suplai serta pesimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya solusi diplomatik dalam waktu dekat.
Kondisi ini membuat pelaku market mulai melakukan re-pricing terhadap risiko geopolitik, terutama terkait potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, pasar kripto tidak luput dari dampak sentimen negatif global. Harga Bitcoin dilaporkan turun tajam hingga berada di bawah $67.000, memicu gelombang likuidasi besar-besaran.
Dalam kurun waktu hanya 4 jam, total likuidasi di pasar kripto mencapai sekitar $258 juta, dengan Bitcoin menyumbang sekitar $118 juta. Aset kripto lainnya juga mengalami tekanan serupa seiring meningkatnya risk-off sentiment dari investor global.
Penutupan Selat Hormuz oleh IRGC menjadi katalis besar yang mengguncang pasar global, mulai dari energi hingga kripto. Lonjakan harga minyak dan tekanan di pasar kripto menunjukkan meningkatnya sensitivitas market terhadap perkembangan geopolitik.
Untuk saat ini, pelaku pasar masih mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah, yang berpotensi menentukan arah pergerakan aset global dalam jangka pendek.