
Posted23/04/2026
Written ByYepi Muhamad
Kasus kehilangan aset kripto akibat wallet “drain” kembali menjadi sorotan di komunitas crypto. Banyak pengguna mengira kejadian ini disebabkan oleh peretasan blockchain, namun berdasarkan berbagai laporan dan analisis, sebagian besar kasus justru terjadi karena pengguna tanpa sadar memberikan akses berbahaya ke wallet mereka. Praktik ini umumnya terjadi melalui interaksi dengan situs phishing, approval kontrak tanpa batas, hingga kebocoran data sensitif seperti seed phrase.
Berdasarkan berbagai laporan komunitas dan edukasi keamanan crypto, pola kejadian wallet drain cenderung serupa. Korban biasanya terpapar melalui tautan yang terlihat meyakinkan, baik dari iklan, pesan langsung (DM), maupun grup Telegram.
Setelah mengakses situs tersebut, pengguna biasanya diminta untuk menghubungkan wallet dan melakukan tindakan seperti “Sign” atau “Approve”. Tanpa disadari, tindakan ini dapat memberikan izin kepada smart contract untuk mengakses aset dalam wallet.
Beberapa penyebab utama yang sering ditemukan antara lain:
Dalam banyak kasus, satu kali klik “Confirm” atau “Sign” sudah cukup untuk membuka akses bagi pelaku untuk memindahkan aset secara bertahap tanpa persetujuan lanjutan.
Secara teknis, blockchain seperti Ethereum atau jaringan lainnya tidak diretas secara langsung. Mekanisme smart contract berjalan sesuai kode yang diberikan. Celah utama justru berada pada sisi pengguna.
Salah satu metode yang sering dimanfaatkan adalah fitur seperti Permit atau Permit2, yang memungkinkan pemberian izin transfer token tanpa perlu transaksi on-chain tambahan. Jika pengguna memberikan izin tanpa batas kepada kontrak berbahaya, maka aset dapat diakses kapan saja.
Selain itu, terdapat perbedaan penting antara “sign message” yang aman dan yang berbahaya:
Tanda-tanda sign berisiko antara lain adanya data teknis (hex), kata-kata seperti “Approve”, “Permit”, atau “Transfer”, serta permintaan yang tidak jelas tujuannya.
Menurut analis keamanan blockchain, meningkatnya kompleksitas dApps dan UX yang kurang transparan membuat pengguna awam lebih rentan terhadap manipulasi ini.
Kasus wallet drain berdampak langsung pada kerugian finansial pengguna, yang dalam beberapa insiden dapat mencapai ribuan hingga jutaan dolar. Jika dikonversikan, kerugian ini bisa setara dengan puluhan juta hingga miliaran rupiah tergantung nilai aset yang hilang.
Selain kerugian individu, fenomena ini juga berdampak pada beberapa hal seperti:
Di sisi lain, kasus ini juga mempercepat edukasi pengguna terkait keamanan digital, khususnya dalam penggunaan wallet non-custodial.
Kasus wallet drain menunjukkan bahwa risiko terbesar dalam ekosistem kripto sering kali bukan berasal dari teknologi blockchain, melainkan dari interaksi pengguna itu sendiri. Dengan meningkatnya kualitas phishing dan teknik manipulasi, pengguna perlu lebih disiplin dalam menjaga keamanan.
Langkah dasar seperti memisahkan wallet utama, membaca detail transaksi sebelum sign, membatasi approval, serta menyimpan seed phrase secara offline menjadi kunci utama dalam menghindari risiko.
Dalam konteks yang lebih luas, edukasi dan kesadaran pengguna menjadi faktor krusial untuk menjaga keamanan aset di era Web3 yang semakin kompleks.