
Posted16/04/2026
Written ByYepi Muhamad
Korea Selatan dilaporkan menyumbang sekitar 30% dari total volume perdagangan kripto global, dengan dominasi altcoin yang mencapai 85% dari seluruh aktivitas. Sementara itu, Bitcoin hanya berkontribusi 9% dan Ethereum sebesar 6%. Data ini menyoroti perbedaan signifikan dalam preferensi aset dan struktur pasar dibandingkan tren global.
Berdasarkan data yang dibagikan oleh Cointelegraph, pasar kripto Korea Selatan menunjukkan kecenderungan kuat terhadap perdagangan altcoin.
Dari total aktivitas perdagangan, sekitar 85% berasal dari altcoin, sementara Bitcoin hanya mencakup 9% dan Ethereum menyumbang 6%. Hal ini menunjukkan bahwa investor di Korea lebih aktif mengejar aset dengan volatilitas tinggi dibandingkan aset kripto utama.
Secara volume, aktivitas perdagangan di Korea mencapai rata-rata sekitar $26 miliar per minggu, atau setara dengan Rp442 triliun. Angka ini menjadi cerminan tingginya partisipasi investor ritel serta dinamika pasar yang sangat aktif.
Di sisi lain, perdagangan kripto dengan denominasi Yen Jepang mencatat volume bulanan yang relatif stabil di kisaran $2 miliar hingga $3 miliar, atau sekitar Rp34 triliun hingga Rp51 triliun.
Nilai ini jauh lebih kecil dibandingkan volume mingguan Korea Selatan. Tetapi, pasar Jepang memiliki keunggulan dari sisi kedalaman likuiditas, khususnya untuk Bitcoin.
Dilaporkan bahwa market depth Bitcoin di Jepang 3 hingga 5 kali lebih dalam dibandingkan Korea. Yang artinya, transaksi dalam jumlah besar dapat dilakukan dengan dampak harga yang lebih kecil, mencerminkan struktur pasar yang lebih matang.
Perbedaan yang sangat mencolok ini mencerminkan karakter investor di masing-masing negara. Investor Korea cenderung lebih agresif dan spekulatif, dengan fokus pada altcoin yang menawarkan potensi keuntungan tinggi dalam jangka pendek.
Sebaliknya, pasar Jepang lebih konservatif dan terstruktur. Regulasi yang lebih ketat turut membentuk ekosistem dengan likuiditas yang lebih dalam dan stabil, terutama untuk aset utama seperti Bitcoin.
Dominasi Korea Selatan dalam volume perdagangan global, terutama pada altcoin, berpotensi mempengaruhi pergerakan harga aset kripto berkapitalisasi kecil hingga menengah.
Lonjakan volume dari Korea kerap menjadi indikator awal meningkatnya minat spekulatif di pasar global. Sementara itu, kedalaman pasar Jepang berperan dalam menjaga stabilitas harga Bitcoin, khususnya saat terjadi transaksi bernilai besar.
Data ini menegaskan adanya perbedaan fundamental dalam struktur pasar kripto di Asia. Korea Selatan tampil sebagai pusat perdagangan altcoin dengan volume tinggi, sementara Jepang menawarkan likuiditas yang lebih dalam untuk Bitcoin.
Kombinasi keduanya menjadi elemen penting dalam membentuk dinamika pasar kripto global, baik dari sisi volatilitas maupun stabilitas harga.