
Posted18/05/2026
Written ByYepi Muhamad
Pasar NFT mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mengalami penurunan tajam pasca-booming pada 2021–2022. Namun, arah perkembangan industri diperkirakan akan berubah pada siklus berikutnya, dengan fokus yang lebih besar pada tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA).
Chief Marketing Officer OpenSea, Adam Hollander, mengatakan bahwa gelombang NFT berikutnya kemungkinan tidak lagi didominasi oleh koleksi gambar profil digital atau profile picture (PFP) yang bersifat spekulatif. Dalam wawancara bersama The Block di acara Consensus Miami, ia menyebut NFT akan lebih banyak digunakan untuk merepresentasikan kepemilikan aset nyata.
Beberapa contoh yang disebut antara lain kartu koleksi Pokémon, jam tangan mewah Rolex, tiket acara digital, hingga item dalam game. Menurut Hollander, teknologi NFT masih relevan karena mampu menjadi alat verifikasi kepemilikan aset secara on-chain, baik untuk aset digital maupun fisik.
“Masuk akal jika aset seperti kartu koleksi ditokenisasi dan diperdagangkan secara on-chain,” ujar Hollander.
Menurut Hollander, perubahan terbesar bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada jenis aset yang digunakan. Jika pada siklus sebelumnya NFT lebih banyak dipakai untuk koleksi digital spekulatif, maka fase berikutnya diperkirakan akan berfokus pada utilitas nyata.
Konsep tokenisasi aset dunia nyata dinilai lebih mudah diterima oleh masyarakat umum karena memiliki fungsi yang lebih jelas. NFT tidak hanya menjadi barang koleksi digital, tetapi juga dapat digunakan sebagai bukti kepemilikan, tiket akses, hingga representasi aset fisik bernilai tinggi.
Tren ini juga sejalan dengan meningkatnya minat industri kripto terhadap sektor RWA dalam beberapa tahun terakhir. Selain NFT, tokenisasi aset dunia nyata mulai diterapkan pada obligasi, properti, emas, hingga instrumen keuangan tradisional lainnya.
Di tengah perubahan tren tersebut, OpenSea mulai melakukan sejumlah penyesuaian agar platform lebih mudah digunakan oleh pengguna umum.
Salah satu perubahan utama adalah menampilkan harga aset dalam denominasi dolar AS, bukan lagi ETH. Langkah ini dilakukan karena banyak pengguna baru dinilai kesulitan memahami fluktuasi harga aset kripto saat melakukan transaksi NFT.
Selain itu, platform juga mulai mendukung metode pembayaran seperti Apple Pay agar proses pembelian NFT menjadi lebih sederhana tanpa harus memahami proses teknis blockchain secara mendalam.
Menurut Hollander, pendekatan tersebut penting untuk memperluas adopsi NFT di luar komunitas kripto inti.
Di sisi lain, OpenSea juga terus memperluas fitur platform melalui versi terbaru OS2. Platform kini mendukung perdagangan lintas blockchain serta integrasi decentralized exchange (DEX). OpenSea juga disebut tengah mengeksplorasi fitur tambahan seperti tokenized real-world assets, prediction markets, hingga perdagangan derivatif kripto.
Data pasar terbaru mulai menunjukkan peningkatan aktivitas NFT setelah periode penurunan panjang. Berdasarkan laporan DappRadar, volume perdagangan NFT pada kuartal ketiga (Q3) 2025 mencapai sekitar US$1,58 miliar.
Jumlah transaksi NFT pada periode tersebut mencapai 18,1 juta transaksi, menjadi salah satu angka tertinggi dalam sejarah pasar NFT.
Sementara itu, beberapa laporan industri memperkirakan nilai pasar NFT global dapat mencapai US$60,82 miliar pada 2026. Angka tersebut naik dibanding estimasi pasar 2025 yang berada di kisaran US$43,08 miliar.
Segmen sports NFT dan tokenisasi aset dunia nyata disebut menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat dalam beberapa bulan terakhir. Analis menilai perkembangan ini menunjukkan bahwa industri NFT mulai memasuki fase yang lebih matang dengan fokus pada utilitas dan penggunaan jangka panjang.
Meski aktivitas pasar masih jauh di bawah puncak euforia beberapa tahun lalu, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa NFT kemungkinan belum kehilangan relevansinya.
Perubahan fokus dari spekulasi menuju utilitas dinilai menjadi langkah penting bagi keberlanjutan industri. Jika sebelumnya pasar NFT identik dengan volatilitas tinggi dan koleksi digital spekulatif, tren baru menunjukkan industri mulai bergerak ke arah penggunaan yang lebih praktis, terintegrasi dengan aset nyata, dan berpotensi menjangkau pengguna yang lebih luas.
Bagi pelaku industri, pergeseran ini juga menjadi sinyal bahwa masa depan NFT kemungkinan tidak lagi hanya bergantung pada hype koleksi digital, melainkan pada kemampuan teknologi tersebut untuk mendukung kepemilikan dan perdagangan aset secara lebih efisien di dunia nyata.