
Posted28/03/2026
Written ByYepi Muhamad
Sebuah laporan terbaru dari European Central Bank (ECB) menyoroti sisi lain dari ekosistem DeFi yang selama ini dikenal sebagai “terdesentralisasi”. Dalam riset tersebut, ECB menemukan bahwa kekuatan tata kelola (governance) di sejumlah protokol DeFi besar justru sangat terkonsentrasi pada segelintir alamat.
Berdasarkan laporan tersebut, sekitar 100 alamat teratas menguasai lebih dari 80% kekuatan suara di beberapa protokol DeFi utama seperti Aave, MakerDAO, dan Uniswap.
Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan penting dalam protokol seperti perubahan parameter, distribusi insentif, hingga arah pengembangan berpotensi dikendalikan oleh kelompok kecil, bukan komunitas luas seperti yang sering diasumsikan.
Menariknya, sebagian dari alamat-alamat besar tersebut diketahui dikendalikan oleh entitas seperti protokol itu sendiri atau bahkan bursa kripto, bukan individu independen.
Laporan ECB juga menyoroti peran besar para delegasi dalam proses voting DAO. Banyak pemegang token memilih untuk mendelegasikan hak suara mereka kepada pihak tertentu, yang akhirnya membuat kekuasaan semakin terpusat.
Delegasi ini pada praktiknya menjadi “perwakilan politik” dalam DAO, namun tanpa transparansi yang selalu jelas.
Akibatnya voting sering didominasi oleh segelintir delegasi besar, partisipasi komunitas langsung menjadi lebih rendah dan keputusan bisa bias terhadap kepentingan tertentu.
Salah satu poin paling krusial dari laporan ini adalah bahwa sekitar sepertiga dari pemilih utama tidak dapat diidentifikasi secara jelas. Artinya tidak diketahui apakah mereka individu, institusi, atau entitas terkoordinasi yang membuat sulit bagi regulator untuk menilai akuntabilitas serta risiko manipulasi governance menjadi lebih tinggi
Bagi regulator, kondisi ini menjadi tantangan besar dalam merumuskan kebijakan terhadap DeFi.
Temuan ECB ini secara tidak langsung mempertanyakan narasi utama DeFi: desentralisasi.
Meskipun secara teknis berbasis blockchain dan open governance, realitanya voting power terkonsentrasi, keputusan dipegang oleh minoritas dan transparansi identitas masih rendah.
Hal ini memunculkan pertanyaan penting, apakah DeFi benar-benar terdesentralisasi, atau hanya “terdesentralisasi secara teknis”?
Laporan ECB membuka realita bahwa banyak protokol DeFi besar masih jauh dari ideal desentralisasi yang selama ini digaungkan.
Konsentrasi kekuasaan, dominasi delegasi, serta anonimitas pemilih menjadi isu utama yang berpotensi memengaruhi masa depan regulasi dan kepercayaan terhadap DeFi.